Paradigma Pengembangan IPTEKS Universitas Muhammadiyah Tangerang "Teknik Elektro"
BAB I
PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan telah memberikan
kemudahan-kemudahandan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah
sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya
berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan
atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih
canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Sebagai
umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan
ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Al-quran, sebab kitab suci
ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sebagai contoh adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 80
yg artinya :“Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi
untuk kamu guna memelihara diri dalam
peperanganmu”.
Dari keterangan itu jelas sekali bahwa
manusia dituntut untuk berbuat sesuatu dengan sarana teknologi. Sehingga tidak mengherankan jika abad ke-7 M telah banyak lahir pemikir
Islam yang tangguh produktif dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Tetapi sangat disayangkan bahwa kemajuan-kemajuan itu tidak sempat
ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya sehingga tanpa sadar umat Islam akhirnya melepaskan
kepeloporannya.
Lalu bangsa Barat dengan mudah mengambil dan mentransfer ilmu dan teknologi
yang dimiliki dunia Islam dan dengan mudah pulamereka membelenggu para pemikir
Islam sehingga sampai saat ini bangsa Baratlah yang menjadi pelopor dan
pengendali ilmu pengetahuan dan teknologi.Sains dan Islam merupakan dua bidang
ilmu pengetahuan yang sedanghangat-hangatnya diperbincangkan. Sains dan Islam
merupakan bidang ilmu pengetahuan yang memiliki
cara pandang yang berbeda dalam menyikapi kehidupan di zaman ini.
Namun disamping perbedaan tersebut masih ada 2 hubungan timbal-balik
yang sangat dahsyat diantara sains dan Islam, apabiladi keduanya di integrasikan dengan pola baik. Hubungan antara sains dan agama kini menjadi pertimbangan penting dikalangan
pemikir, dan pembentukan kuliah-kuliah akademik tentang sains danIslam
merupakan petunjuk kuat tentang hal tersebut.
Oleh karena demikian, makamakalah yang
dihadapan saudara ini adalah salah satu bentuk upaya untuk mengkaji
pandangan hubungan sains dan Islam, yakni dari sisi pandangan
konflik,independensi, dialog, dan integrasi.Islam memiliki kepedulian dan
perhatian penuh kepada ummatnya agar terus berproses untuk menggali
potensi-potensi alam dan lingkungan menjadi sentrum peradaban yang gemilang.
Dalam konteks ini, tidak ada pertentangan antara sains dan Islam, dimana
keduanya berjalan seimbang dan selaras untuk menciptakan khazanah keilmuan
dan peradaban manusia yang lebih baik dari sebelumnya.Pandangan Islam terhadap
sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang
umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk
melakukan penelitian dan bereksperimen dalam halapapun, termasuk sains dan
teknologi. Bagi Islam, sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang
perlu digali dan dicari keberadaannya.
Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini merupakan anugerah bagi
manusia sebagai khalifatullahdi bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya. Pandangan Islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui
prinsip- prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi
MuhammadSAW yang berbunyi:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ1 خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَق 2 اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الأكْرَمُ 3 الَّذِي عَلَّمَ
بِالْقَلَم ِ4 عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا
لَمْ يَعْلَم5 ْ
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. DiaTelah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Diamengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-A’laq: 1-5).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian IPTEKS
Ilmu dalam bahasa Arab `ilm berarti memahami, mengerti
atau mengetahui. `Ilm menurut bahasa berarti kejelasan, karena itu segala kata
yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Misalnya: `alam
(bendera), `ulmat (bibir sumbing), a`lam (gunung-gunung), `alamat (alamat), dan
sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang segala sesuatu.
Ilmu atau sains memiliki arti lebih spesifik yaitu usaha
mencari pendekatan rasional dan pengumpulan fakta-fakta empiris, dengan melalui
pendekatan keilmuan akan didapatkan sejumlah pengetahuan atau juga dapat dikatakan
ilmu adalah sebagai pengetahuan yang ilmiah.
Menurut Jan Hendrik Rapar menjelaskan bahwa pengetahuan
ilmiah (scientific knowledge) adalah pengetahuan yang diperoleh lewat
penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai
Pengetahuan yang demikian dikenal juga dengan sebutan science.
Teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu dasar untuk
memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan tertentu, atau dapat dikatakan
juga teknologi adalah ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan untuk memenuhi
suatu tujuan.
Teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang
merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk
memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu cara menerapkan
kemampuan teknik yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan berdasarkan proses
teknis tertentu untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan terpenuhinya
suatu tujuan.
B. Potensi Manusia (Jasmani dan Rohani) dalam
Pengembangan IPTEKS
POTENSI YANG DIMILIKI MANUSIA
Dalam berbagai literature, khususnya dibidang filsafat
dan antropologi dijumpai berbagai pandangan para ahli tentang hakekat manusia.
Sastraprateja, misalnya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang historis.
Hakikat manusia itu sendiri adalah suatu sejarah, suatu peristiwa yang
semata-mata datum. Hakikat manusia hanya dilihat dalam perjalanan sejarahnya,
dalam sejarah perjalanan bangsa manusia. Saatraprateja lebih lanjut mengatakan,
bahwa apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengamatan manusia adalah
suatu rangkaian anthtropoligical constans, yaitu dorongan-dorongan dan orientasi
yang dimiliki manusia.
Lebih lanjut, Sastraprateja menambahkan ada
sekurang-kurangnya 6 anthtropoligical
constans yang dapat di tarik dari pengalaman umat manusia, yaitu:
1. Relasi manusia dengan
kejasmanian, alam, dan lingkungan ekologis
2. Keterlibatan dengan
sesama
3. Keterkaitan dengan
srtuktur sosial dan institional
4. Ketergantungan
masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat,
hubungan
timbal balik antara teori dan praktis.
5. Kesadaran religious dan
para religious
6. Merupakan satu sintesis
dan masing-masing saling mempengaruhi.
Keenam masalah tersebut tampak merupakan rangkaian kegiatan yang tidak bisa
ditinggalkan oleh manusia, yang secara umum dapat dikatakan bahwa dalam
beresksistensinya manusia tidak bisa melepaskan dari ketergantungannya pada
orang lain.
Dr. Alexis Carrel (seorang peletak dasar-dasar
humaniora di Barat ) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang misterius,
karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya
yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada luar dirinya. Pendapat ini menunjukkan tentang betapa sulitnya
memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sehingga setiap kali seseorang
selesai memahami dari satu aspek tentang manusia, maka muncul pula aspek yang
lainnya.
Manusia memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan social maupun
perubahan alamiah. Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan
berbagai makhluk yang berbudaya. Manusia tidak liar, baik secara social maupun
alamiah.
Manusia yang baru lahir dari perut ibunya masih sangat
lemah, tidak berdaya dan tidak mengetahui apa-apa. Untuk menjadi hamba Allah
yang selalu menyembah-Nya dengan tulus dan menjadi khalifah-Nya dimuka bumi,
anak tersebut membutuhkan
perawatan, bimbingan dan pengembangan segenap potensinya kepada tujuan yang
benar. Ia harus dikembangkan segala potensinya kearah yang positif melalui
suatu upaya yang disebut sebagai al-Tarbiyah, al-Ta’dib, al-Ta’lim atau
yang kita kenal dengan “pendidikan”.
Karena pendidikan yang mengarahkan ke arah perkembangan
yang optimal maka pendidikan dalam mengembangkannya harus memperhatikan
aspek-aspek kepentingan yang antara lain :
1. Aspek Pedagogis
Dalam hal ini manusia dipandang sebagai makhluk yang
disebut ‘Homo Educondum’ yaitu makhluk yang harus didik. Inilah yang
membedakannya dengan makhluk yang lain. Jadi disini pendidikan berfungsi
memanusiakan manusia tanpa pendidikan sama sekali, manusia tidak dapat menjadi
manusia yang sebenarnya.
2. Aspek Psikologis
Aspek ini memandang manusia sebagai makhluk yang disebut
‘Psychophyisk Netral’ yaitu makhluk yang memiliki kemandirian (selftandingness)
jasmaniahnya dan rohaniah. Didalam kemandirian itu manusia mempunyai potensi
dasar yang merupakan benih yang dapat tumbuh dan berkembang.
3. Aspek Sosiologis Dan Kultural
Aspek ini memandang bahwa manusia adalah makhluk yang
berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
4. Aspek Filosofis
Aspek ini manusia adalah makhluk yang disebut ‘Homo
Sapiens’ yaitu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.
Manusia sebagai makhluk paedagogik membawa potensi dapat
dididik dan dapat mendidik. Sehingga dengan potensi tersebut mampu menjadi
khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan
fitrah Allah berupa keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan
kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.
Fitrah manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
melalui pendidikan. Oleh karena itu pendidikan Islam bertugas membimbing dan
mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia tersebut sehingga
terbentuk seorang yang berkepribadian muslim. Potensi dasar tersebut atau lebih
dikenal dengan istilah fitrah harus terpelihara dan berkembang dengan baik.
Sebab tugas pendidikan adalah menjadikan potensi dasar itu lebih berdaya guna,
berfungsi secara wajar dan manusiawi.
Dalam pandangan lain, Pendidikan merupakan upaya manusia
yang diarahkan kepada manusia lain dengan harapan mereka, ini berkat pendidikan
(pengajaran) itu kelak menjadi manusia yang shaleh, yang berbuat sebagai mana
yang seharusnya diperbuat dan menjauhi apa yang tidak patut dilakukannya.
HUBUNGAN FITRAH DENGAN
PENDIDIKAN
Sebelum kita melihat hubungan fitrah dengan pendidikan
maka dilihat dulu dari segi pengertian.
1.
Fitrah adalah : kemampuan dasar yang ada pada diri
seseorang yang harus dikembangkan secara optimal.
2.
Pendidikan adalah : usaha sadar orang dewasa untuk
mengembangkan kemampuan hidup secara optimal, baik secara pribadi maupun
sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai religius dan sosial
sebagai pengarah hidupnya.
Dapat disimpulkan bahwa hubungan fitrah dengan pendidikan
adalah potensi yang ada atau kemampuan jasmani dan rohaniah yang dapat
dikembangkan tersebut. Pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan
sampai dimana tiitk optimal kemampuan-kemampuan tersebut untuk mencapainya.
Keutuhan terhadap pendidikan bukan sekedar untuk mengembangkan
aspek-aspek individualisasi dan sosialisasi, melainkan juga mengarahkan
perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang ukhawi. Oleh
karena itu diperlukan atau keharusan pendidikan.
Potensi fitrah yang diberikan Allah itu, menurut Abdullah
Nashih Ulwan sebagi “fitrah tauhid” aqidah iman kepada Allah dan atas dasar
kesucian yang tidak ternoda. Menurut H.M. Arifin, fitrah adalah suatu
kemampuan dasar manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya, yang di dalamnya
terkandung berbagai komponen psikologis yang satu sama lain saling berkaitan
dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.
Seiring dengan lajutnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, peranan pendidikan akan menjadi semakin penting.
Karena di samping kemajuan ilmu pengetahuan yang menuntut sumber daya manusia
yang berkualitas (khalifah Allah dibumi). Juga pendidikan berperan sebagai
pengarah dari lajunya perkembangan pengetahuan itu sendiri, sehingga hasil
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak akan merusak nilai
manusia itu sendiri.
Al-Quran sebagai tumpuan dasar hidup dan kehidupan
manusia dan sekaligus sumber ajaran Islam memuat begitu banyak segi kehidupan.
Begitu banyak yang tercakup dalam ayat-ayatnya, baik yang tersirat maupun yang
tersurat, dari perihidup
kemanusiaan sampai menerobos keberbagai bidang ilmu pengetahuan.
Salah satu yang terpenting dalam ajaran Islam adalah
pendidikan, yang merupakan faktor fundamental dalam kehidupan manusia, telah
menjadi salah satu bidang yang tercakup dalam kandungan ayat-ayat suci al-Quran
dan bahkan menjadi topik yang utama. Sebab Rasulullah sendiri diutus oleh Allah
untuk mengajarkan dan mendidik manusia untuk dapat mengenal Allah dan Rasulnya.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali
dengan berbagai potensi atau fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya.
Potensi istimewa ini dimaksudkan agar mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai
khalifah di muka bumi dan juga untuk beribadah kepada Allah SWT. Manusia dengan
berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa
yang akan diembannya dapat terwujud. Pendidikan islam bertujuan untuk
mewujudkan manusia yang berkrebadian muslim baik secara lahir maupun batin,
mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keriddhaan Allah SWT.
Pendidikan Islam harus menggunakan al-Quran sebagai sumber utama dalam
merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam. Dengan kata lain,
pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat al-Quran yang penafsirannya dapat
dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perubahan dan pembaharuan.
Dengan demikian, hakikat cita-cita Pendidikan Islam
adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu
sama lain saling menunjang. Fitrah adalah potensi diri manusia untuk lebih
baik. Itulah sebabnya potensi untuk menjadi lebih baik pada diri kita
senantiasa dodorong dan dibangkitkan. Banyak sekali orang selalu optimis,
sehingga berbagai masalah dan rintangan mampu dihadapi dengan gembira yang
akhirnya mampu membuat orang-orang disekitarnya termotivasi untuk meningkatkan
kualitas hidup. Fitrah erat kaitannya dengan citra manusia yang merupakan
gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli
manusiawi. Kualitas tersebut merupakan sunnah Allah yang ada pada manusia sejak
ia dilahirkan.
Kondisi citra manusia secara potensial tidak dapat
dirubah, sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang, namun
secara actual citra tersebut dapat berubah sesuai dengan kehendak dan pilihan
manusia itu sendiri. Sebelum kita mengetahui fitrah dan potensi manusia dalam
pendidikan Islam. Kita lihat dulu pengetian dari Pendidikan Islam itu sendiri
apa?. Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-touny al-Syaebani,
diartikan sebagai ”usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan
pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya
melalui proses kependidikan”. Dan dari hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam
se-Indonesia tahun 1960, Pendidikan Islam yaitu: sebagai bimbingan terhadap
pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan,
mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.
Adapun Pendidikan Islam menurut Dr. Muhammad Fadil
Al-Djamaly, Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada
kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan
kemampuan dasar (fitrah) dan kemampua ajarannya (pengaruh dari luar). Dan
Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang dilakukan seorang
dewasa kepada anak didiknya untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dan
memiliki kepribadian muslim yang mengimplemantasikan syari’at Islam dalam
kehidupan sehari, serta hidup bahagia didunia dan akhirat.
Dari beberapa defenisi tersebut,
Pendidikan Islam, yakni pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur
ditanamkan didalam diri manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala
sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan
pengakuan tempat tuhan yang tepat didalam tatanan wujud dan kepribadian.
Dilihat dari penjelasan diatas, maka diperlukan
pendidikan islam yang harus didasarkan pada konsep dasar manusia yang
berhubungan dengan kualitas-kulitas atau potensi manusia, potensi yang
memerlukan proses pembinaan yang mengacu ke arah yang realisasi dan
pengembangan individu yang berwawasan kepada Islam. Dalam hal ini dengan
berpandu kepada Al-quran dan Hadist sebagai sumbernya, sehingga akhir dari
tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insane Kamil bahagia di
dunia dan akhirat. Ada pun tujuan yang tertinggi dapat dirumuskan dalam istilah
“insane kamil” (manusia paripurna). Dalam tujuan pendidikan islam tujuan
tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia,
dan peranannya sebagai mahkluk ciptaan Allah.
Dengan demikian indikator dari insane kamil tersebut
adalah: menjadi hamba Allah, mengantarkan subjek didik menjadi khalifah
Allah fi al-Ardh,yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih
jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan
penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman
hidup, dan untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup didunia sampai
akhira, baik individu maupun masyarakat.
Allah SWT menciptakan manusia
didunia kecuali bertugas pokok untuk menyembah Khalik-Nya, juga bertugas untuk
mengelola dan memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar mereka dapat
hidup sejahtera dan makmur lahir batin. Manusia diciptakan Allah selain menjadi
Hamba-Nya, juga menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan
“khalifah”, manusia telah diberi kelengkapan kemampuan jasmaniah(fisiologis)
dan rohaniah (mental psikologis) yang dapat dikembangkan. Begitu kompleks
fitrah manusia, sehingga manusia pantas menerima amanah Tuhan untuk menjadi
khalifah dan hamba-Nya. Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling
baik dan ditumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna
dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupannya
didunia. baik diantara makhluk Allah yang lain.
Struktur manusia terdiri dari unsure jasmaniah dan
rohaniah atau unsur psiologis. Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan
dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana (alat) yang
menentukan sampai dimana titik optimal kemampuan tersebut dapat dicapai. Namun,
proses pengembangan kemampuan manusia melalui pendidikan tidaklah menjamin akan
terbentuknya watak dan bakat seseorang untuk menjadi baik menjadi baik menurut
kehendak-Nya, mengingat Allah sendiri telah menggariskan bahwa di dalam diri
manusia terdapat kecenderungan dua arah, yaitu arah perbuatan fasik (menyimpang
dari peraturan) dan ke arah ketakwaan (menaati peraturan/perintah). Seperti
firman Allah dalam surat As Syams 7-10. Dalam firman Allah tersebut menjelaskan
bahwa, manusia di beri kemungkinan untuk mendidik diri dan orang lain menjadi
sosok pribadi yang beruntung sesuai kehendak Allah melalui berbagai
metode ikhtairiah-Nya. Di sini tercermin bahwa manusia memiliki
kemamuan bebas (free will) untuk menentukan dirinya melalui upayanya sendiri.
Ia tak akan mendapatkan sesuatu kecuali menurut usahnya.
Dapat dilihat dalam firman Allah yakni dalam surat An
Najm, 39 dan 40. Disini menjelaskan konsepsi Islam tentang hubungan Tuhan dan Manusia
sebagai makhluk-Nya yang mengandung nilai kasih sayang bersifat pendagogis
(mendidik), yaitu tanpa ikhtiar, manusia tidak akan memperoleh kasih sayamg
Tuhan atau keberuntungan atau keberhasilan. Dengan kata lain, rahmat dan
hidayah serta taufik-Nya tidak akan diperoleh manusia tanpa melalui ikhtiar
yang benar dan sungguh di jalan Allah. Bilamana tujuan pendidikan Islam
diarahkan kepada pembentukan manusia yang seutuhnya, berarti proses
kependidikan yang harus dikelola oleh para pendidik harus berjalan di atas pola
dasar manusia dari fitrah yang telah dibentuk Allah dalam setiap pribadi
manusia.
Pola dasar ini mengandung potensi psikologis yang
kompleks, karena di dalamnya terdapat aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat
dikembangkan secara dialektis-interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi)
untuk terbentuknya kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan
kependidikan. Salah satu aspek potensial dari apa yang disebut
“fitrah” adalah kemampuan berfikir manusia dimana rasio atau intelegensia
(kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya. Para pendidik muslim sejak dahulu
menganggap bahwa kemampuan berpikir inilah yang menjadi kriterium (pembeda)
yang esensial antara manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Disamping itu,
kemampuan ini memiliki kapabilitas untuk berkembang seoptimal mungkin yang
banyak bergantung pada daya guna proses kependidikan.
Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan
dasar yang memiliki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas yang
menurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”. Kata fitrah diambil dari kata
fathara yang berarti mencipta. Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah
mencipta sesuatu pertama kali/tanpa ada contoh sebelumnya. Kata fitrah berasal
dari kata (fi’il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah
berarti kejadian asli,agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan
kesucian. Menurut ibn al-Qayyim dan ibn al-Katsir, karena fatir artinya
menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu.
Menurut hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas, fitrah
adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah
dikemukakan oleh al-Qur’an dalam konteksnya selain dengan manusia. Dalam kamus
susunan Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai,
kejadian asli. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah,
kejadian, tabiat. Menurut Syahminan Zain (1986 : 5), bahwa fitrah adalah
potensi laten atau kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri manusia, yang dibawanya
sejak lahir.
Pengertian secara etimologi tersebut masih bersifat umum,
untuk mengkhususkan arti fitrah, hendaklah perhatikan firman Allah SWT dalam
Q.S Ar-Rum 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya”
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya”
Adapun sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
adalah :
“Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hanya bapak ibulah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”.(H.R. Muslim)
“Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hanya bapak ibulah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”.(H.R. Muslim)
Bila di interpretasikan lebih lanjut
dari istilah “Fitrah” sebagaimana tersebut dalam ayat al-Qur’an dan Hadist,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.
Fitrah yang disebutkan dalam ayat tersebut mengandung
implikasi pendidikan.Oleh karena itu, kata fitrah mengandung makna
“kejadian” yang didalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus
yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapa pun. Karena fitrah
itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun
bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
2.
Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama
Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk
melaksanakan agama (beribadah). Hal in dikuatkan oleh firman Allah dalam surat
adz-Dzariyat(51):56[9][6]
3.
Fitrah Allah berarti ciptaan Allah, Manusia diciptakan
Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama Tauhid; maka hal itu tidak wajar
kalau manusia tidak beragama tauhid. Mereka tidak beragama tauhid itu hanya
lantaran pengaruh lingkungan. Tegasnya manusia menurut fitrah beragama tauhid.
4.
Fitrah berarti ciptaan, kodrat jiwa, budi nurani.
Maksudnya bahwa rasa keagamaan, rasa pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa itu
adalah serasi dengan budi nurani manusia. Adapun manusia yang bertuhankan
kepada yang lain-lain adalah menyalahi kodrat kejiwaannya sendiri.
5.
Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan
berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan
suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadist yaitu: “ Tiga
perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana
manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng
penjagaan” (HR. abu Hamid dari Muadz)
6.
Fitrah berarti potensi dasar manusia. Maksudnya potensi
dasar manusia ini sebagai alat untuk mengabdi dan
ma’rifatullah.Para filosof yang beraliran empirisme memandang aktivitas
fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya.
Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, Fitrah itu dapat
dilihat dari dua segi yakni; segi naluri sifat pembawaan manusia atau
sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi manusia sejak lahir, dan segi wahyu
Tuhan yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama
wahyu itu merupakan satu hal yang nampak dalam dua sisi, ibarat mata uang logam
yang mempunai dua sisi yang sama.Mata uang itulah kita ibaratkan
fitrah. Kemampuan menerima sifat-sifat Tuhan dan mengembangkan sifat-sifat
tersebut adalah merupakan potensi dasar manusia yang terbawa sejak lahir.
Ada pun macam-macam fitrah (potensi) dapat kita lihat
sbb:
1.
Potensi Fisik (Psychomotoric).
Merupakan potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan
sesuai fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
hidup.
2.
Potensi Mental Intelektual (IQ).
Merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya :
untuk merencanakan sesuatu untuk menghitung, dan menganalisis, serta memahami
sesuatu tersebut.
3.
Potensi Mental Spritual Question (SP).
Merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian
dalam diri manusia yang berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak
manusia.
4.
Potensi Sosial Emosional.
Yaitu merupakan potensi yang ada pada otak manusia
fungsinya mengendalikan amarah, serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.
Kemampuan dasar untuk beragama
secara umum, tidak hanya terbatas dalam agama Islam. Dengan kemampuan ini
manusia dapat dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi, namun
tidak dapat dididik menjadi atheis (anti Tuhan). Pendapat ini diikuti oleh
banyak ulama Islam yang berfaham ahli Mu’tazilah antara lain Ibnu Sina dan Ibnu
Khaldun. Aspek-aspek psikologis dalam fitrah adalah merupakan komponen
dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar,
termasuk pengaruh pendidikan.
Aspek-aspek tersebut adalah:
1.
Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu
kepada perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini
berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (Kehendak) dan Emosi
(rasa) yang disebut dalam psikologi filosifis dengan tiga kekuatan rohaniah
manusia.
2.
Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan
berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar. Kemampuan
insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan
kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa
belajar.
3.
Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal
nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan mencela dan merendahkan
orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh
atau memusuhi orang lain. Nafsu berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan
seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu
mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut
al-Ghazali, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah
perbuatan mulia sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong
ke arah perbuatan rendah sebagaimana binatang.
4.
Karakter adalah merupakan kemampuan psikologis yang
terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan
sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan dari dalam diri
manusia, bukan terbentuk dari pengaruh luar
5.
Hereditas atau keturunan adalah merupakan factor
kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang
diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang telah
jauh.
6.
Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk
menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang
membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran akal
pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya.
Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih jiwanya.
Implikasi Fitrah Manusia Terhadap Pendidikan
Alat-alat potensial dan berbagai potensial dasar atau
fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu
melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberikan kebebasan untuk
berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau
fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya
tidak dapat lepas dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum
yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun
masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada
kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (Keharusan
universal)
Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat
potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruh oleh faktor-faktor hereditas,
lingkngan alam, lingkungan sosial, sejarah. Dalam ilmu-ilmu pendidikan ada 5
macam faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan, yaitu
tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan. Karena itulah
maka minat, bakat, kemampuan (skill), sikap manusia yang diwujudkan dalam
kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut
bermacam-macam.
Fitrah berisi daya-daya yang wujud dan perkembangannya
tergantung pada usaha manusia sendiri. Oleh karena itu fitrah harus
dikembalikan dalam bentuk-bentuk keahlian, laksana emas atau minyak bumi yang
terpendam di perut bumi, tidak ada gunanya kalau tidak digali dan diolah untuk
manusia. Di sinilah letak tugas utama pendidikan. Sedangkan pendidikan sangat
dipengaruhi oleh factor pembawaan dan lingkungan (nativisme dan empirisme).
Namun ada perbedaan antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Pendidikan
Islam berangkat dari filsafat pendidikan theocentric, sedangkan pendidikan umum
berangkat dari filsafat anthropocentric.
Theocentric memandang bahwa semua yang ada diciptakan
oleh Tuhan, berjalan menurut hukum-Nya. Filsafat ini memandang bahwa manusia
dilahirkan sesuai dengan fitrah-Nya dan perkembangan selanjutnya tergantung
pada lingkungan dan pendidikan yang diperoleh. Sedang seorang guru hanya
bersifat membantu, serta memberikan penjelasan-penjelasan sesuai dengan tahap
perkembangan pemikiran serta peserta didik sendirilah yang harus belajar.
Sedangkan filsafat anthropocentric lebih mendasarkan
ajaran pada hasil pemikiran manusia dan berorientasi pada kemampuan manusia
dalam hidup keduniawian. Dalam pendidikan Islam hidayah Allah menjadi sumber
spiritual yang menjadi penentu keberhasilan akhir dari proses ikhtiyariah
manusia dalam pendidikan.
Fitrah manusia dan implikasinya dalam pendidikan dapat
dijelaskan lebih lanjut dengan:
1) Pemberian stimulus dan
pendidikan demokratis
2) Manusia ditinjau dari
segi fisik-biologis mungkin boleh dikatakan sudah selesai, “Physically and
biologically is finished”, tetapi dari segi rohani, spiritual dan
moral memang belum selesai, “morally is unfinished”. Manusia tidak
dapat dipandang sebagai makhluk yang reaktif, melainkan responsif, sehingga ia
menjadi makhluk yang responsible (bertanggung jawab). Oleh
karena itu pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan
stimulus dan dilaksanakan secara demokratis.
3) Kebijakan pendidikan
perlu pertimbangan empiris. Dengan bantuan kajian psikologik, implikasi fitrah
manusia dalam pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat
diharapkan sejauh menyangkut development dan becoming sesuai
dengan citra manusia menurut pandangan islam.
4) Konsep fitrah dan aliran
konvergensi. Dari satu sisi, aliran konvergensi dekat dengan konsep fitrah
walaupun tidak sama karena perbedaan paradigmanya. Adapun kedekatannya:
a.
Islam menegaskan bahwa manusia mempunyai bakat-bakat
bawaan atau keturunan, meskipun semua itu merupakan potensi yang mengandung
berbagai kemungkinan,
b.
Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum
berarti bagi kehidupan manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan
diaktualisasikan.
Namun demikian, dalam Islam, faktor keturunan tidaklah
merupakan suatu yang kaku sehingga tidak bisa dipengaruhi. Ia bahkan dapat
dilenturkan dalam batas tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah
lingkungan dengan segala anasirnya. Karenanya, lingkungan sekitar ialah aspek
pendidikan yang penting. Ini berarti bahwa fitrah tidak berarti kosong atau
bersih seperti teori tabula rasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi
dengan berbagai sumber daya manusia yang potensia.
Walaupun berfikir dan bernalar
diakui sebagai salah satu kemampuan dasar manusia, namun kemampuan untuk
menemukan jalan kebenaran tidaklah mutlak tanpa petunjuk Ilahi, pikiran dan
penalaran dalam perkembangannya memerlukan pengarahan dan latihan yang bersifat
kependidikan yang sekaligus mengembangkan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya dalam
pola keseimbangan dan keserasian yang ideal.
Oleh karena itu pendidikan Islam
tidak hanya menekankan pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada
intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana
sasarannya adalah pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat maka pendidikan
Islam pada hakekatnya adalah menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas
sesuai dengan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an. Pendidikan Islam tidak
hanya menekankan pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada
intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana
sasarannya adalah pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat maka pendidikan
Islam pada hakekatnya adalah menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai
dengan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an
Dengan demikian proses pendidikan
Islam demi mencapai tujuan yang total, menyeluruh dan meliputi segenap aspek
kemampuan manusia diperlukan landasan falsafah pendidikan yang menjangkau
pengembangan potensi kemanusiannya, falsafah pendidikan yang demikian itu
bercorak menyeluruh dimana iman melandasarinya. Sehingga proses pendidikan yang
berwatak keagamaan mampu mengarahkan kepada pembentukan manusia yang mukmin,
atau dengan filsafat pendidikan Islam bisa memikirkan perkembangannya secara
mendasar, sistematik, dan rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits agar
berkembang secara optimal dan bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
C. Rambu-rambu Pengembangan IPTEKS dalam
Al-Qur’an
Bagi ilmuwan al-Qur`an adalah inspirator, maknanya bahwa
dalam al-Qur’an banyak terkandung teks-teks (ayat-ayat) yang mendorong manusia
untuk melihat, memandang, berfikir, serta mencermati fenomena-fenomena alam
semesta ciptaan Tuhan yang menarik untuk diselidiki, diteliti dan dikembangkan.
Al-Qur’an menantang manusia untuk menggunakan akal fikirannya seoptimal
mungkin.
Al-Qur`an memuat segala informasi yang dibutuhkan
manusia, baik yang sudah diketahui maupun belum diketahui. Informasi tentang
ilmu pengetahuan dan teknologi pun disebutkan berulang-ulang dengan tujuan agar
manusia bertindak untuk melakukan nazhar. Nazhar adalah mempraktekkan metode,
mengadakan observasi dan penelitian ilmiah terhadap segala macam peristiwa alam
di seluruh jagad ini, juga terhadap lingkungan keadaan masyarakat dan
historisitas bangsa-bangsa zaman dahulu. Sebagaimana firman Allah dalam
QS. Yunus ayat 101 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad):
lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa
yang ada di langit dan di bumi ...”
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya telah berlalu
sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
(QS. Ali Imran: 137)
وَفِي
أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya:”Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu
tidak memperhatikan?”. (QS. Az-Zariyat: 21).
Dalam al-Qur`an terdapat ayat-ayat yang memberikan
motivasi agar manusia menggunakan akal fikiran untuk membaca dan mengamati
fenomena-fenomena alam semesta. Teks-teks al-Qur’an yang terkait dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi adalah sebagai berikut:
a. Al-Qur`an
Sebagai Produk Wujud Iptek Allah
Al-Qur`an menuntun manusia pada jalur-jalur riset yang
akan ditempuh sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Al-Qur`an juga
sebagai hudan memberi kecerahan pada akal manusia, kebenaran hasil riset dapat
diukur dari kesesuaian rumus baku, dan antara akal dengan naql.
Al-Qur`an merupakan rumus baku, alam semesta dengan
segala perubahannya sebagai persoalan yang layak dan perlu dijawab, maka
al-Qur`an sebagai kamus alam semesta. Solusi tentang teka-teki alam semesta
akan terselesaikan dengan benar jika digunakan formula yang tepat yaitu
al-Qur`an. Dengan demikian ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Qur’aniyah akan
berjalan secara pararel dan seimbang. Ilmu pengetahuan seperti ini jika
menjelma menjadi teknologi maka akan menjadikan teknologi berbasiskan Qur’an
atau teknologi yang Qur’anik.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang
pengembangan iptek, seperti wahyu pertama QS. Al-`Alaq 1-5 menyuruh manusia
untuk membaca, menulis, melakukan penelitian dengan dilandasi iman dan akhlak
yang mulia. Sedangkan perintah untuk melakukan penelitian secara jelas terdapat
dalam QS. Al-Ghasiyah, ayat 17-20:
أَفَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى اْلإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى اْلأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Artinya:
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan
langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasiyah: 17-20)
Dari ayat-ayat tersebut, maka munculah di lingkungan umat
Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran, sehingga
ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif seperti yang berkembang di Yunani,
melainkan memiliki ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains.
وَمِنْ كُلِّّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: ”Dan segala sesuatu kami ciptakan
berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS. Az Zariyat: 49)
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا
تُنْبِتُ اْلأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS. Yasin: 36)
Dari
ayat di atas dinyatakan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk secara
berpasang-pasangan, seperti ada siang dan malam, positif dan negatif, wanita
dan pria, elektron dan positron. Terjadinya pasangan elektron dan positron di
dalam fisika inti dikenal pembentukan ion (ion air production) di mana radiasi
gelombang elektron magnetik memiliki tenaga di atas 1.02 Mev. Ayat ini dapat
diartikan sebagai perintah untuk melakukan penelitian. Karena dengan melakukan
penelitian hal-hal yang tadinya belum terungkap menjadi terungkap.
b. Al-Quran Sebagai
Prediktor
Beberapa ayat Al Quran menyatakan ramalannya kejadian
pada masa yang akan datang baik masa yang jauh maupun masa yang dekat, yang
sebagian merupakan mata rantai sebab akibat (kausalitas). Oleh sebab itu jika
sebab ini merupakan data-data yang dapat dirunut oleh manusia secara
komprehensip, maka akibat yang ditimbulkan kelak akan dapat diketahui sebelum
terjadi dengan intensitas keyakinan yang cukup tinggi.
Berikut ini contoh ayat-ayat tersebut:
ظَهَرَ الْفَسَادَ فِي اْلبَرِّّ وَالْبَحْرِ بِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan
manusia...” (QS. Ar Rum: 41)
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَأَبَا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوْهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلاَّ قَلِيْلاً مِمَّا تَأْكُلُوْنَ (47) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلاَّ قَلِيْلاً مِمَّا تُحْصِنُوْنَ (48)
Artinya:
"Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya)
sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya
kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun
yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya
(tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (QS.
Yusuf: 47-48)
إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) إِنَّ الَّذِيْنَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا ْالأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan
masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah
seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan
mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal
di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha
kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada
Tuhannya. (Qs. Bayinah: 6-8)
c. Al-Qur`an Sebagai Sumber
Motivasi
Al
Quran mendorong atau memberi motivasi kepada manusia untuk melakukan
penjelajahan angkasa luar dan di bumi, perhatikan firman Allah berikut ini:
مَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ
تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانْفُذُوا لاَ تَنْفُذُون
إِلاَّ بِسُلْطَانٍ
Artinya:
Hai sekumpulan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru
langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan (sulthon). (QS. Ar Rahman: 33)
Kemudian tentang penjelajahan di bumi, perhatikan firman berikut ini:
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى اْلأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيْهَا
مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
Artinya:
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah
banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
(QS. As Syu’ara: 7)
Islam tidak melarang untuk memikirkan masalah teknologi
modern atau ilmu pengetahuan yang sifatnya menuju modernisasi pemikiran manusia
genius, profesional, dan konstruktif serta aspiratif terhadap permaslahan yang
timbul dalam kehidupan sehari-hari.
d. Al-Quran dan
Simplikasi (Penyederhanaan)
Alam semesta ini membentuk struktur yang sangat teratur,
dan bergerak dengan teratur. Keteraturan gerak alam semesta ini lebih
memudahkan manusia untuk menyederhanakan fenomena-fenomena yang terkait ke
dalam bahasa ilmu pengetahuan (matematika, fisika, kimia biologi dan
lain-lain). Sehingga manusia dapat menjadi operator yang mampu mewakili
peristiwa yang terjadi di alam semesta. Untuk meraih teknologi tinggi tidak
perlu merasa tidak mampu, dengan semangat tinggi dan tidak menganggap bahwa
high tech merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, maka high tech akan
dapat diraih.
Perhatikan firman Allah berikut ini:
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ اْلأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَاْلأَنْعَامُ حَتىَّ إِذَا أَخَذَتِ اْلأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنْهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيْدًا كَأَنْ لَّمْ تَغْنَ بِاْلأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya:
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah
seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan
suburnya) karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan
manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna
keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya dan pemilik-permliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di
waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang
berfikir. (QS. Yunus: 24)
e. Al-Quran Sumber Etika Pengembangan Iptek
Pada teknologi harus terkandung muatan etika yang selalu
menyertai hasil teknologi pada saat akan diterapkan. Sungguh pun hebat hasil
teknologi namun jika diniatkan untuk membuat kerusakan sesama manusia,
menghancurkan lingkungan sangat dilarang di dalam Islam. Jadi teknologi bukan
sesuatu yang bebas nilai, demikian pula penyalahgunaan teknologi merupakan
perbuatan zalim yang tidak disukai Allah SWT. Perhatikan FirmanNya:
وَابْتَغِ فِيْمَا آَتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلآَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ اْلفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash: 77)
Demikian pula sains dan teknologi modern (Barat) tidak
ada yang netral atau bebas nilai. Tetapi prioritas, penekanan, metode dan
prosesnya, serta pandangan terhadap dunia merefleksikan kepentingan masyarakat
dan kebudayaan Barat. Dalam kerangka ini sains Barat semata-mata digunakan
untuk mengejar keuntungan dan sejumlah produksi, untuk pengembangan militer dan
perlengkapan-perlengkapan perang, serta untuk mendominasi ras manusia terhadap
ras manusia lainnya, sebagaimana untuk mendominasi alam. Dalam sistem Barat
sains itu sendiri merupakan nilai tertinggi, sehingga segala-galanya harus
dikorbankan demi sains dan teknologi.
Dalam kaitan ini munculnya disiplin baru seperti
sosiobiologi, eugenics (ilmu untuk meningkatkan kualitas-kualitas spesies
manusia) dan rekayasa genetika, tidak mendorong timbulnya persaudaraan dan
tanggungjawab tapi memberi kesan bagi kaum ilmuwan bahwa merekalah penguasa
jagad raya ini.
Kemudian dalam bidang biologi, perkembangan teknologi
yang pesat diawali dengan penemuan DNA oleh Watson dan Crick pada Tahun 1953.
Sejak saat itu berbagai macam teknologi yang melibatkan perekayasaan sifat
genetic makhluk hidup mulai bermunculan. Beberapa diantaranya sangat
menakjubkan dan memungkinkan manusia berperan sebagai tuhan. Sementara
sanat Islam berbeda, ilmu yang dicari semata-mata hanya untuk mencari karunia
Allah, bukan untuk merusak sehingga menimbulkan bencana.
PERINTAH MEMPELAJARI
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Islam agama yang syamil, kamil dan mutakamil (menyeluruh,
sempurna dan menyempurnakan). Islam tidak hanya mengatur perihal ibadah
vertikal saja, namun seluruh aspek kehidupan, termasuk diantaranya mempelajari
Iptek.
Al-Qur`an diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah tidak
hanya memerintahkan untuk sekedar dibaca, sesuai dengan wahyu yang pertama
diturunkan dalam QS. 96: 1, tetapi mengandung maksud lebih dari itu yaitu
menghendaki seluruh umatnya membaca, menggali, mendalami, meneliti apa saja
yang ada di alam semesta ini dan mengambil manfaat untuk kehidupan manusia
dengan mengetahui ciri-ciri sesuatu seperti: bencana alam, tanda-tanda zaman,
sejarah, diri sendiri yang tertulis maupun yang tidak tertulis sehingga dapat
menghadapi tantangan dan menjawab permasalahan-permasalahan dunia modern yang
diterapkan dalam segala aspek kehidupan.
Proses kehidupan manusia itu selalu mengalami
perkembangan yang pesat dari awal terbentuknya manusia, bayi, anak-anak,
remaja, dewasa sampai tua dan alam semesta ini dibuat Allah tidak sia-sia,
tetapi ada hikmah didalamnya agar manusia dapat mempelajari iptek, sesuai dalam
QS. 3: 190-191yang berbunyi: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal
yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia,
Maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka”. Dalam ayat ini
mengandung maksud perintah untuk mempelajari iptek karena manusia telah dipilih
sebagai makhluk yang memiliki kemampuan dan derajat tinggi, antara lain:
· Manusia
diperintahkan untuk menggunakan akal pikiran dengan membaca, belajar dan
meneliti alam semesta.
· Manusia
dijadikan khalifah di muka bumi, dibuktikan dengan Allah SWT memilih nabi Adam
sebagai pemimpin dibandingkan makhluk yang lain.
· Manusia
memiliki ilmu pengetahuan yang dapat memperkuat iman untuk menjadikan dirinya
memiliki derajat tinggi dunia akhirat
· Manusia
diperintahkan menjadi profesional terhadap bidang ilmu yang dimiliki.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut pengertian Barat, ilmu adalah murni ciptaan
manusia, tanpa adanya campur tangan Allah. Sedangkan menurut al-Qur’an, ilmu
adalah rangkaian keterangan teratur dari Allah (Q.S. Al-Rahman : 1-13).
Orang Barat menganggap bahwa teknologi merupakan objek
yang terlahir atas kebudayaan perilaku manusia. Menurut al-Qur’an, teknologi
tercipta karena adanya kesadaran untuk menciptakannya, bukan sebagai ambisi
tiap individu.
Sebelum Islam datang, Dr Muhammad Luthfi, ketua
Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, mengatakan bahwa Eropa berada dalam
abad kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya
tahyul. Para ilmuwan Barat terinspirasi oleh kemajuan IPTEK yang
dibangun kaum muslimin.
Rahasia kemajuan peradaban Islam adalah karena Islam
tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran
agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan
syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan
riset-riset ilmiah.
Secara implisit, bangsa Indonesia menghendaki agar agama
dapat berperan sebagai jiwa, penggerak, dan pengendali ataupun sebagai landasan
spiritual, moral, dan etik bagi pembangunan nasional, termasuk pembangunan
bidang iptek tentunya. Dalam kaitannya dengan pengembangan iptek
nasional, agama diharapkan dapat menjiwai, menggerakkan, dan mengendalikan
pengembangan iptek nasional tersebut.
Pola hubungan antara agama dan iptek di Indonesia saat
ini baru pada taraf tidak saling mengganggu. Pengembangan iptek dan
pengembangan kehidupan beragama diusahakan agar tidak saling tabrak pagar
masing-masing. Pengembangan agama diharapkan tidak menghambat pengembangan
iptek sedang pengembangan iptek diharapkan tidak mengganggu pengembangan
kehidupan beragama. Konflik yang timbul antara keduanya diselesaikan
dengan kebijaksanaan.
Seperti juga pada bidang lain, kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi mempunyai dampak positif dan negatif. Dari sisi positifnya,
kemajuan iptek membuat orang tidak lagi hanya berwawasan lokal. Dalam usahanya
memecahkan persoalan, ia akan melihat ke seluruh dunia guna menemukan
solusi. Dalam mencari pekerjaan atau ilmu pun, ia tidak lagi
membatasi diri pada pekerjaan atau lembaga pendidikan di kampungnya, kotanya,
propinsinya, atau negaranya saja. Seluruh permukaan bumi ini dapat menjadi
kemungkinan tempat ia bekerja atau mencari ilmu. Dampak negatifnya adalah
adanya globalisasi cara berfikir, yang dapat membuat orang tidak lagi mengacu
pada nilai-nilai tradisional bangsanya. Kemudahan memperoleh informasi akan
membuat ia dapat mempelajari nilai-nilai yang ada pada masyarakat dan bangsa
lain, baik yang menyangkut nilai sosial, ekonomi, budaya, maupun politik.
Kondisi Indonesia sekarang sudah mengikuti pada gaya
Barat. Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita
bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian
politik, ekonomi dan moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain
kecuali dengan pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam
sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi
keimanan-taqwa kepada Allah SWT. Serta melawan pengaruh buruk budaya sampah
dari Barat yang Sekular, Matre dan hedonis (mempertuhankan kenikmatan hawa
nafsu).
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi
pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular,
maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana
ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat Khalifatullah
(wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan
menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin).
Dalam perspektif Islam, antara iman, ilmu, amal, dan
iptek tidak bisa dipisahkan. Disana terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis
yang terintegrasi kedalam suatu sistem yang disebut Dinul Islam. Tauhid sebagai
kunci pokok Islam, tidak mengakui adanya pemisahan antara iman dan sains.
Segala sesuatu yang ada di alam merupakan bukti kehadiran Allah. Pengetahuan
tentang alam adalah suatu bentuk amal shaleh yang dapat mendekatkan diri
manusia kepada Allah.
Para ilmuwan muslim lebih menjadikan keimanan sebagai
landasan dalam mengembangkan
teori-teori ilmiah. Bagi mereka, alam adalah objek berfikir, manusia sebagai
subjeknya, dan Allah merupakan tujuan akhirnya. Inilah yang menjadi landasan
utama para ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains.
B. Saran
Pengembangan IPTEK yang
lepas dari keimanan tak akan bernilai ibadah dan tak akan menghasilkan manfaat
bagi manusia dan lingkungan. Sebaliknya, pengembangan IPTEK yang didasari etika
Islam akan memberikan orientasi dan arah yang jelas, serta mampu mengoptimalkan
manfaat IPTEK dan meminimalisir dampak negatif IPTEK bagi manusia dan alam.
Orang yang melandaskan ilmunya dengan keimanan, pengembangan dan pemanfaatan
IPTEK tidaklah ditujukan sebagai tuntutan hidup semata, tetapi juga merupakan
refleksi dari ibadah kepada Allah. Ia menjadi sarana peningkatan rasa syukur
dan ketakwaan kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus sebisa mungkin
menyeimbangkan antara iptek dan agama.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Ina
Fauzia 17/05/2015 Paradigma Pengembangan Ipteks http://inafauzia95.blogspot.com/2015/05/paradigma-pengembangan-ipteks.html
2.
Ina Fauzia
17/05/2015 Prinsip dan Ajaran Islam Dalam Ipteks http://inafauzia95.blogspot.com/2015/05/prinsip-dan-ajaran-islam-dalam-ipteks.html
Komentar
Posting Komentar